planetita.com | Cerita tentang bisnis, inspirasi, dan motivasi

Archive for December 2008

Dec/08

14

Untuk Seorang Sahabat

Ini kisah tentang seorang sahabatku. Dia adalah teman baikku dari masa kecil sekaligus kuanggap sebagai kakakku. Orangnya sederhana, baik, ulet, juga pekerja keras.  Tekadnya kuat dan selalu berusaha sekuat tenaga untuk memperoleh apa yang diinginkannya, tentunya dalam hal yang positif.

Aku masih ingat pelajaran yang pernah dia berikan mengenai kiatnya dalam meraih sesuatu.  Katanya, ibarat kita ingin masuk ke dalam suatu rumah, jangan pernah terpaku pada satu pintu. Jika kita tidak bisa masuk lewat pintu depan, carilah pintu samping, pintu belakang, jendela, atau atap sekalipun sehingga kita bisa masuk ke dalam rumah seperti yang kita inginkan. (Ini hanya perumpamaan lho!!! Tidak dimaksudkan untuk hal-hal yang tidak benar). Akan selalu ada cara yang bisa kita lakukan untuk meraih impian-impian kita. Jadi, jangan pernah ada kata menyerah sebelum tujuan kita tercapai.

            Suatu hari, dia datang padaku setelah sekian lama tak pernah berjumpa, berbagi kisah yang telah terjadi di hidupnya. Ada kisah manis, ada kisah pahit. Ada masa ketika dia berjaya, ada pula masa-masa penuh perjuangan, termasuk ketika harus menghadapi perdebatan-perdebatan dalam batinnya. Saat ketika dia harus berjuang memenangkan satu pilihan di antara dua pilihan yang saling bertentangan dan sangat menentukan masa depannya. Akhirnya, satu keputusan telah diambilnya dengan dilandasi oleh kerinduan untuk melayani Tuhan dan sesama. Puncaknya 28 Agustus lalu, dia merayakan kaul kekal, sumpah setia bagi Tuhan dan sesama.

            Senang sekali rasanya melihat sahabat baikku telah menemukan rumah idamannya. Aku tahu meskipun dia orang yang sama dengan yang aku kenal, tapi segalanya akan terasa berbeda. Sekarang dia teman dan kakak bagi banyak orang, bahkan untuk bertemu dengannya pun mungkin harus sabar menunggu giliran setelah dia melaksanakan semua tugas-tugasnya, itu pun jika dia bertugas di tempat yang masih bisa kujangkau. Namun yang jelas aku ikut bahagia atas kaulnya. Selamat berkarya di ladang Tuhan! Kudoakan semoga sukses dalam pelayananmu! Shalom!

 

(Untuk seorang sahabat baikku, Fr. maaf aku tak bisa datang, tapi kabari aku ya di imamatmu!)

, , , Hide

Dec/08

14

JODOH

Sebuah surat undangan pernikahan tergeletak manis di atas meja kerjaku. Sekilas terbaca nama kedua mempelai yang terukir indah. Meuthia Iswandari dan Renaldi Dwi Susanto. Meuthia adalah teman baikku satu SMU tapi Renaldi? Renaldi yang mana ya? Apakah Renaldi kakak kelas kami? Seandainya benar calon suami Meuthia adalah Renaldi kakak kelas kami, hehehe…aku jadi senyum-senyum sendiri mengingat masa-masa SMU dulu.

          Aku teringat suatu hari di SMU dulu, ketika aku masuk di kelas yang masih sepi, aku mendapati Meuthia sedang menangis tersedu-sedu. Meuthia menangis? Wah, satu keajaiban dunia sedang muncul di hadapanku. Ada apa ya? Setahuku Meuthia itu periang, tidak gampang menangis. Separah apa ya masalahnya? Perlahan kudekati dia, kutemani tanpa bertanya. Sebenarnya sih aku penasaran, ingin segera mengetahui masalah yang dihadapi Meuthia tapi aku tak tega. Biarlah Meuthia menenangkan dirinya dulu.

          “Re!” panggil Meuthia padaku setelah dia tak lagi terisak.

          “Ya, Thia? Ada apa?” tanyaku.

          “Aku benci Renaldi Re.”

          “Lho, kok bisa? Kenapa?” Wah, kaget juga aku mendengarnya. Setahuku Renaldi itu gebetannya Meuthia. Mereka berdua cukup akrab, banyak kegiatan keorganisasian yang mereka berdua ikuti bersama. Kok tiba-tiba Meuthia jadi benci Renaldi? Ini maksudnya benci betulan atau benar-benar cinta ya?

          “Tadi aku ketemu Renaldi. Tiba-tiba dia bilang kalau kami cuma teman biasa, tidak lebih. Maksudnya apa coba? Kalau dia tidak suka aku, kenapa dia ngasih harapan? Kenapa dia selalu baik padaku, memberikan perhatian padaku hingga aku merasa diistimewakan dan setelah aku berharap padanya, aku malah ditinggalkan? Untuk apa dia menyanjungku jika akhirnya dia menjatuhkanku?”

          “Sabar dulu Thia, mungkin Renaldi punya alasan tertentu yang tidak kita ketahui,” hiburku.

          “Tidak bisa! Aku tidak bisa dan tidak mau bersabar untuk dia. Aku sudah terlanjur sakit hati. Aku sudah merasa ditolak sebelum aku mengungkapkan isi hatiku. Aku benci dia. Mulai sekarang Renaldi hanyalah bagian dari masa laluku. Biarlah dia kukenang sebagai salah seorang teman baikku, bukan sebagai seseorang yang pernah istimewa dalam hatiku.”

          Itulah sepenggal kenangan yang hingga di kepalaku. Seandainya mereka berdua memang menikah, ajaib bukan?

         

“Hallo, selamat sore. Bisa bicara dengan Meuthia?”kataku di ujung telepon.

          “Ya, saya sendiri. Dengan siapa saya bicara?”

          “Hai Thia, ini Rere. Selamat ya atas pernikahannya. By the way boleh tanya nggak? Renaldi calon suamimu itu kakak kelas kita di SMU bukan ya?”

          “Hai, Re. Iya Re, calon suamiku Renaldi kakak kelas kita di SMU dulu.”

          “Hah? Kok bisa? Gimana ceritanya? Kapan kalian bertemu lagi setelah kita lulus SMU? Kapan mulai pacarannya?”

          “Ya ampun Re, banyak banget pertanyaannya. Aku bertemu Renaldi tahun lalu di acara Temu Alumni SMU kita, waktu itu kamu tidak datang. Lalu, suatu hari dia datang ke rumahku dan melamar aku. Jadi, kami tidak pacaran dulu. Pacarannya nanti setelah menikah. Begitu ceritanya Re.”

          Hah? Sesederhana itu ceritanya? Perasaanku terasa bercampur aduk, bahagia, geli, takjub, serasa tak percaya dan berbagai perasaan lain yang sulit kugambarkan. Sepasang anak manusia yang tidak pernah terbayangkan akan bersatu ternyata akhirnya bersatu juga meskipun jalan yang dilalui harus berliku.

***

Lain lagi ceritanya Anne dan Benny. Dua-duanya adalah teman kuliahku. Semasa kuliah, mereka memang dekat tapi tak ada kata pacaran dalam kamus mereka. Waktu itu, Anne sudah punya pacar dan sepertinya pacarnya itu adalah tipe ideal buat Anne. Sedangkan Benny? Wah, dia mah kutu buku abis, pendiam, belum kepikiran untuk nyari pacar mungkin, padahal sih ganteng juga. Siapa yang mengira kalau tiga tahun kemudian Anne dan Benny malah menikah? Ajaib bukan?

 

Lain lagi cerita tentang Mas Donny. Mas Donny itu kakak temanku. Kabarnya ketika masih SMU, Mas Donny sudah “cling” sama Mbak Rossa, tapi waktu itu mereka nggak sempat jadian. Mungkin Mas Donny yang salah strategi, jadinya keduluan deh sama orang lain. Kasihan Mas Donny patah hati. Waktu terus berjalan, Mas Donny tetap sibuk dengan dunianya dan setia dengan kesendiriannya. Begitu pula dengan Mbak Rossa, sibuk dengan dunianya. Siapa yang mengira kalau sekian tahun kemudian mereka dipertemukan kembali bahkan dalam ikatan pernikahan yang suci? Ajaib bukan? Tak masuk akal bila dipikir dengan logika, tapi memang tak perlu berpikir, cukup dihayati dan disyukuri.

Satu yang aku yakini, jodoh memang rahasia Tuhan. Tak akan ada seorang pun manusia yang dapat mengetahui misteri Tuhan. Meskipun jalan hidup manusia begitu berliku, kehendak-Nya jugalah yang terjadi. Tak putus-putus aku memuji keagungan karya Tuhan. Rencana-Nya memang selalu indah pada waktunya.

Hide

« Previous Page« Previous Entries

Next Entries »Next Page »

Panduan Dasar Membuat Website

PDMW

Belajar Wordpress

Ebook wordpress

Theme Design by devolux.org