Beberapa hari yang lalu, diriku sempat mampir ke blognya Mbak Dini Shanti. Buat yang belum tahu, Mbak Dini Shanti itu seorang pakar internet marketing, salah satu foundernya dBC-Network. Info mengenai dBC-Network dapat dilihat di sini : http://www.my-home-job.info.
Di blog itu, Mbak Dini membahas renungannya tentang kenapa inputnya sama tetapi outputnya belum tentu sama.
Mau tidak mau jadi kepikiran juga, iya yah walaupun inputnya sama, outputnya belum tentu sama. Di bisnisku di http://www.my-home-job.info juga begitu.
Inputnya sama untuk semuanya, join sama-sama hanya bermodalkan Rp 40 ribu, support sistemnya juga sama, mentornya juga sama, tapi kenapa outputnya bisa beda yah?
Jadi teringat beberapa komentar yang sering aku dengar.
Ada yang bilang, “Saya sibuk, nggak punya waktu”.
Tapi kenapa ya bisa ada orang seperti Mbak Yuli yang karyawan kantoran tapi berhasil juga jadi Gold Director di bisnis ini? Ada juga Mbak Yenny Agustin yang sama-sama kerja kantoran tapi berhasil juga tuh jadi Senior Manager di bisnis ini. Waktu yang dimiliki oleh semuanya sama kan ya, sama-sama 24 jam? Jadi, apa benar “waktu” itu yang jadi akar masalahnya?
Ada yang bilang, “Saya sibuk, soalnya punya anak kecil, nggak ada yang bantuin di rumah”.
Tapi kenapa ya bisa ada orang seperti Mbak Nizma yang punya anak balita, bahkan salah satunya masih bayi tapi sukses juga jadi Senior Manager? Kenapa juga bisa ada orang seperti Mbak Muna yang punya 2 anak balita, ga ada yang bantuin di rumah, tapi bisa sukses jadi Senior Manager? Oya, Mbak Yuli yang Gold Director itu juga punya anak yang masih balita, dan satu lagi masih bayi loh…Jadi mikir lagi, apa benar “punya anak kecil” ini yang jadi akar masalahnya?
Hush!!! Masa anak-anak dijadikan akar masalah? Nggak boleh itu!!! Anak-anak kan anugerah kan ya? Nggak pantes rasanya kalau menuduh “anak-anak” itu sebagai akar masalah. Yang pantes itu kalau “anak-anak” dijadikan sumber motivasi buat orang tuanya untuk bisa memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Betul atau betul Bapak-bapak, Ibu-ibu?
Terus ada juga yang bilang, “Saya ga familier sama internet”.
Jadi inget sama salah seorang Directornya dBC-Network yang katanya awalnya ga familier sama internet tapi sekarang jadi jagoan gara-gara terus tanya upline-nya setiap kali menemukan step baru.
Jadi inget juga sama salah satu downlineku yang hebat. Dia sengaja datang ke tempatku, niat banget pengen diajari ngenet, terus tetep berkomunikasi sama aku ketika menemukan hal baru. Jadi mikir lagi, apa benar “ga familier sama internet” ini yang jadi akar masalahnya? Kayaknya bukan juga deh…
Ada juga yang bilang, “Saya jauh dari upline saya”.
Tapi kenapa ada Mbak Yenny Agustin dari Bali yang jadi Senior Manager padahal uplinenya ada di Manado, dan nenek upline-nya di Jakarta. Kayaknya bukan jarak juga deh yang jadi akar masalahnya.
Jadi apa donk yang jadi akar masalahnya? Kenapa dari input yang sama, outputnya belum tentu sama? Kalau pertanyaan-pertanyaan itu terus ditelusuri, saya yakin jawaban sebenarnya tersimpan di diri kita masing-masing. Kita yang tahu pasti kenapa kita tidak bergerak. Rasanya bukan masalah “kemampuan”, tapi menurutku sih lebih ke “kemauan”.
Terus nanti muncul lagi komentar, “Keadaanku kan tidak seperti mereka. Soalnya aku kan bla…bla….bla….”
Hihihihi….dibanding buang-buang energi nyari pembenaran diri tapi ga ada solusi, mendingan juga belajar yuuk sama pengalaman mereka-mereka yang sudah berhasil, siapa tahu strateginya bisa kita terapkan untuk keberhasilan kita.
Do whatever it takes when we need something!
Rasanya sih hal ini juga bisa diterapkan ya dalam kehidupan sehari-hari….
Udah dulu ah nulisnya, sukses selalu untuk kita semua!
Regards,
Tita
http://www.my-home-job.info
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
No comments yet.
Leave a comment!
« Waktu…







