CAT | Iseng
Dari kemarin aku perhatikan di sepanjang jalan banyak banget poster-poster calon legislatif dari berbagai partai. Sejujurnya mah nggak ada yang aku kenal meskipun mereka notabene mewakili daerahku. Iseng-iseng jadi kepikiran kenapa yah poster-poster mereka kok baru sekarang diboomingkan setelah waktunya mendekati hari pemilihan? Kan masyarakat tidak bisa tuh dipaksa mengingat-ingat sesuatu yang sebelumnya tidak dikenal secara instan.
Mungkin akan ada yang jawab, “Kan kena aturan kampanye tuh tentang masa-masa kampanye” atau ada juga yang akan jawab, “Maka dari itu dipasang poster di mana-mana, pasang iklan di mana-mana biar masyarakat kenal sama tokohnya”.
Kalau dipikir-pikir emangnya yang dikejar cuma diingat nama dan partainya saja? Bukankah akan lebih bertuah kalau masyarakat memilih seorang tokoh yang memang sudah jelas kiprahnya dikenal massa? Jadi kenapa tidak dimulai saja membangun image dari sekarang untuk pemilihan minimal 5 tahun ke depan, tentunya dengan cara berkiprah memberikan kontribusi nyata sehingga masyarakat benar-benar mengenal tokoh tersebut. Kalau sudah begitu sih tentunya masyarakat tidak akan ragu mau memilih siapa.
Saya sih cuma berharap semoga saja pembangunan image ini memang sedang benar-benar dilakukan demi kemajuan kita bersama, positive thinking aja.
(Iseng-iseng kepikiran, semoga bisa jadi pengingat bagi semuanya terutama bagi diriku sendiri untuk berkontribusi nyata demi kemajuan bersama)
Sebuah surat undangan pernikahan tergeletak manis di atas meja kerjaku. Sekilas terbaca nama kedua mempelai yang terukir indah. Meuthia Iswandari dan Renaldi Dwi Susanto. Meuthia adalah teman baikku satu SMU tapi Renaldi? Renaldi yang mana ya? Apakah Renaldi kakak kelas kami? Seandainya benar calon suami Meuthia adalah Renaldi kakak kelas kami, hehehe…aku jadi senyum-senyum sendiri mengingat masa-masa SMU dulu.
Aku teringat suatu hari di SMU dulu, ketika aku masuk di kelas yang masih sepi, aku mendapati Meuthia sedang menangis tersedu-sedu. Meuthia menangis? Wah, satu keajaiban dunia sedang muncul di hadapanku. Ada apa ya? Setahuku Meuthia itu periang, tidak gampang menangis. Separah apa ya masalahnya? Perlahan kudekati dia, kutemani tanpa bertanya. Sebenarnya sih aku penasaran, ingin segera mengetahui masalah yang dihadapi Meuthia tapi aku tak tega. Biarlah Meuthia menenangkan dirinya dulu.
“Re!” panggil Meuthia padaku setelah dia tak lagi terisak.
“Ya, Thia? Ada apa?” tanyaku.
“Aku benci Renaldi Re.”
“Lho, kok bisa? Kenapa?” Wah, kaget juga aku mendengarnya. Setahuku Renaldi itu gebetannya Meuthia. Mereka berdua cukup akrab, banyak kegiatan keorganisasian yang mereka berdua ikuti bersama. Kok tiba-tiba Meuthia jadi benci Renaldi? Ini maksudnya benci betulan atau benar-benar cinta ya?
“Tadi aku ketemu Renaldi. Tiba-tiba dia bilang kalau kami cuma teman biasa, tidak lebih. Maksudnya apa coba? Kalau dia tidak suka aku, kenapa dia ngasih harapan? Kenapa dia selalu baik padaku, memberikan perhatian padaku hingga aku merasa diistimewakan dan setelah aku berharap padanya, aku malah ditinggalkan? Untuk apa dia menyanjungku jika akhirnya dia menjatuhkanku?”
“Sabar dulu Thia, mungkin Renaldi punya alasan tertentu yang tidak kita ketahui,” hiburku.
“Tidak bisa! Aku tidak bisa dan tidak mau bersabar untuk dia. Aku sudah terlanjur sakit hati. Aku sudah merasa ditolak sebelum aku mengungkapkan isi hatiku. Aku benci dia. Mulai sekarang Renaldi hanyalah bagian dari masa laluku. Biarlah dia kukenang sebagai salah seorang teman baikku, bukan sebagai seseorang yang pernah istimewa dalam hatiku.”
Itulah sepenggal kenangan yang hingga di kepalaku. Seandainya mereka berdua memang menikah, ajaib bukan?
“Hallo, selamat sore. Bisa bicara dengan Meuthia?”kataku di ujung telepon.
“Ya, saya sendiri. Dengan siapa saya bicara?”
“Hai Thia, ini Rere. Selamat ya atas pernikahannya. By the way boleh tanya nggak? Renaldi calon suamimu itu kakak kelas kita di SMU bukan ya?”
“Hai, Re. Iya Re, calon suamiku Renaldi kakak kelas kita di SMU dulu.”
“Hah? Kok bisa? Gimana ceritanya? Kapan kalian bertemu lagi setelah kita lulus SMU? Kapan mulai pacarannya?”
“Ya ampun Re, banyak banget pertanyaannya. Aku bertemu Renaldi tahun lalu di acara Temu Alumni SMU kita, waktu itu kamu tidak datang. Lalu, suatu hari dia datang ke rumahku dan melamar aku. Jadi, kami tidak pacaran dulu. Pacarannya nanti setelah menikah. Begitu ceritanya Re.”
Hah? Sesederhana itu ceritanya? Perasaanku terasa bercampur aduk, bahagia, geli, takjub, serasa tak percaya dan berbagai perasaan lain yang sulit kugambarkan. Sepasang anak manusia yang tidak pernah terbayangkan akan bersatu ternyata akhirnya bersatu juga meskipun jalan yang dilalui harus berliku.
***
Lain lagi ceritanya Anne dan Benny. Dua-duanya adalah teman kuliahku. Semasa kuliah, mereka memang dekat tapi tak ada kata pacaran dalam kamus mereka. Waktu itu, Anne sudah punya pacar dan sepertinya pacarnya itu adalah tipe ideal buat Anne. Sedangkan Benny? Wah, dia mah kutu buku abis, pendiam, belum kepikiran untuk nyari pacar mungkin, padahal sih ganteng juga. Siapa yang mengira kalau tiga tahun kemudian Anne dan Benny malah menikah? Ajaib bukan?
Lain lagi cerita tentang Mas Donny. Mas Donny itu kakak temanku. Kabarnya ketika masih SMU, Mas Donny sudah “cling” sama Mbak Rossa, tapi waktu itu mereka nggak sempat jadian. Mungkin Mas Donny yang salah strategi, jadinya keduluan deh sama orang lain. Kasihan Mas Donny patah hati. Waktu terus berjalan, Mas Donny tetap sibuk dengan dunianya dan setia dengan kesendiriannya. Begitu pula dengan Mbak Rossa, sibuk dengan dunianya. Siapa yang mengira kalau sekian tahun kemudian mereka dipertemukan kembali bahkan dalam ikatan pernikahan yang suci? Ajaib bukan? Tak masuk akal bila dipikir dengan logika, tapi memang tak perlu berpikir, cukup dihayati dan disyukuri.
Satu yang aku yakini, jodoh memang rahasia Tuhan. Tak akan ada seorang pun manusia yang dapat mengetahui misteri Tuhan. Meskipun jalan hidup manusia begitu berliku, kehendak-Nya jugalah yang terjadi. Tak putus-putus aku memuji keagungan karya Tuhan. Rencana-Nya memang selalu indah pada waktunya.






