CAT | Bisnis
Siapa yang belum tahu Mario Teguh?
Kayaknya jarang banget yah orang yang tidak tahu siapa itu Mario Teguh, seorang motivator ternama yang sering tampil di acara-acara TV seperti Metro TV & O Channel.
Makanya ketika aku tahu bahwa dBC-Network menggelar acara Satu Jam Bersama Mario Teguh, bedah buku terbarunya Leadership Golden Ways tanggal 5 Sept 2009, aku langsung mendaftarkan diri ikutan. Kapan lagi gitu loh dapat kesempatan bagus seperti ini? Dapat siraman motivasi langsung dari Sang Maestro & dapat bukunya lagih
Makasih banyak buat Leader-Leader dBC-Network yang telah menggelar acara besar ini ![]()
Aku tahu perjuangan untuk menggelar acara besar ini pasti tidaklah mudah, ada banyak waktu, tenaga, pikiran, materi juga yang tercurah demi terselenggaranya acara ini, bahkan untuk menghadirkan seorang Mario Teguh sendiri pasti butuh perjuangan tersendiri. Ternyata bukan hanya dukungan fasilitas online yang canggih seperti di http://www.my-home-job.info saja, tapi pengembangan pribadi para anggotanya juga sangat diperhatikan. Makasih banyak yaa…I Love U Fulllll
Acara dimulai jam 3 sore dengan moderator crosslineku yang baru aja rekognisi jadi Director, Mbak Rani.
Pak Mario membahas mengenai Leading A New Self, Memimpin Diri yang Baru.
Katanya, ” Semua perbaikan pada keefektifan kepemimpinan seseorang, mensyaratkan perbaikan pada kepemimpinan pribadinya sendiri.”
Kata kuncinya adalah “keefektifan”.
Keefektifan kata dasarnya adalah “efek” artinya adalah “dampak”.
Seseorang yang efektif adalah seseorang yang selalu membawa dampak bagi orang-orang di sekelilingnya, tentunya dampak yang dimaksud adalah dampak yang baik loh yaa….:D
Bagaimana sih caranya agar kita berdampak buat orang lain? Ada tekniknya seperti bagaimana bahasa tubuh kita ketika berbicara dengan orang lain, ekspresi wajah, wibawa, dan sebagainya agar orang meng-iya-kan apa yang kita maksud.
Untuk bisa seperti itu, Pak Mario Teguh mengajak kita untuk memperlakukan diri kita seperti kristal yang mahal. Kalau kita disuruh membawa kristal yang mahal, kita cenderung berhati-hati kan? Beda dengan ketika disuruh membawa barang yang tidak berharga, kita cenderung seenaknya. Itulah yang sering terjadi, kita cenderung menganggap kita murah. Mulai sekarang, tanamkanlah di pikiran kita bahwa kita ini adalah mahal dan sangat berharga. Cobalah kita bercermin, lihatlah baik-baik orang yang ada di dalam cermin, jangan melihat orang dalam cermin itu apa adanya, tapi cobalah untuk melihat bahwa orang di dalam cermin itu bisa dijadikan apa, karena dialah modal kita
“Jelaslah Mengenai Kemajuan yang Anda Inginkan”
Banyak dari kita yang berdoa memohon kepada Tuhan tapi permohonannya tidak jelas. Misalnya, saya ingin jadi kaya. Titik. Lah teruus? Mau kayanya seperti apa? Punya uang berapa yang diinginkannya? Kurang jelas kan?
Kalau uplineku Mbak Nurul & Pak Harpan, ngajarin aku dengan bertanya begini :
1. Maunya apa? –> Pengen punya penghasilan yang besar
2. Berapa? –> 8 juta sebulan (Sah-sah aja kan? Punya keinginan kan gratis, ga disuruh bayar hehe…)
3. Kapan maunya itu tercapai?
4. Seberapa besar keyakinanmu bahwa keinginanmu itu bisa tercapai?
5. Bagaimana efeknya kalau ternyata keinginanmu itu tidak bisa tercapai?
Kalau ternyata tidak berpengaruh apa-apa ketika itu tidak tercapai, artinya kita tidak sungguh-sungguh menginginkannya. Gali lagi keinginan yang benar-benar kita inginkan.
Terpaksa mikir kan jadinya? Tapi percaya deh, begitu kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, keinginan kita akan tergambar dengan jelasnya di kepala kita. Kita jadi tahu apa yang kita inginkan dan apa yang harus kita perjuangkan. Jadi, begitu kita dapat gambaran mimpi kita, pegang kuat-kuat dan jangan biarkan seorang pun mencurinya dari kita (mengutip dari quotationnya Mbak Nurul)
“Periksalah Sikap Anda”
Agar doa kita dijawab, kesibukan kita harus mengarah pada doa kita.
Ada 3 jenis kesibukan yang harus dilakukan:
1. Kesibukan pikiran –> pikiran itu seperti peta untuk menemukan jalan.
2. Kesibukan rasa –> untuk kekuatan
3. Kesibukan badan –> gerakan untuk menemukan jalan dan kekuatan hati.
Apabila 3 kesibukan ini kita lakukan, maka jalan kita menjadi semakin dekat pada doa kita.
“Jelaslah Mengenai Kemampuan yang Anda Butuhkan untuk Mencapai Kemajuan yang Anda Inginkan Saat Ini.”
Keberhasilan dicapai dalam pergaulan dengan orang lain, maka perbaikilah hubungan dengan orang lain.
“Jelaslah Mengenai Apa Saja yang Harus Anda Lakukan Pada Saat Ini”
Keberhasilan kita yang pertama adalah ketika kita menghadapkan diri kita pada keberhasilan kita, kemudian Tuhan yang memberikan kita energi untuk terus maju. Semua yang terjadi pada hidup kita adalah energi untuk membuat kita maju. Analoginya adalah ketika kita ingin ke Bogor, keberhasilan yang pertama adalah ketika kita menghadapkan kendaraan kita ke arah Bogor. Kemudian apa yang terjadi pada hidup kita adalah bahan bakar agar kita terus maju.
“Selalu lakukanlah lebih dari apa yang diharapkan dari Anda”
Jika kita ingin suatu peningkatan, maka kita harus melakukan lebih dari apa yang diharapkan dari kita. Jika kita dibayar 1 juta, lakukanlah pekerjaan dengan nilai 2 juta. Hal ini akan membuat orang lain berpikir bahwa kita layak untuk dibayar 2 juta. Jika kita dibayar 1 juta dan kita mengerjakan pekerjaan dengan nilai 1 juta juga, apa yang membuat orang lain berpikir bahwa kita layak dibayar lebih?
“Jadilah pribadi yang lebih lurus”
Dia yang jalannya lurus akan lebih cepat sampai dibandingkan yang jalannya berbelok-belok.
“Jadikanlah diri Anda pemimpin yang lebih tegas terhadap diri Anda sendiri”
Kita harus utuh sebagai profesional dan spiritual. Profesional artinya bahwa saya akan bekerja sekeras-kerasnya seperti Tuhan tidak membantu saya. Spritual artinya saya berdoa kepada Tuhan seperti semua kepandaian saya tidak ada gunanya. Jadilah utuh keduanya.
Duh, ternyata 1 jam itu kurang ya? Bener-bener ga kerasa tahu-tahu udah jam 4 lagi. Tapi ga papa segitu juga berharga sekali.
Sekali lagi terima kasih banyak yaa..buat panitia dan Pak Mario Teguh juga
Buat partner-partnerku tercinta yang tidak bisa hadir karena jauh atau berhalangan, kutuliskan ini special untuk teman-teman semua. Untuk teman-teman yang belum jadi partner saya di http://www.my-home-job.info boleh baca juga kok, boleh juga melamar menjadi partner saya, masih terbuka kok kesempatannya
Salam sukses untuk semua
Regards,
Tita
http://www.my-home-job.info
http://planetita.com
Beberapa hari yang lalu, diriku sempat mampir ke blognya Mbak Dini Shanti. Buat yang belum tahu, Mbak Dini Shanti itu seorang pakar internet marketing, salah satu foundernya dBC-Network. Info mengenai dBC-Network dapat dilihat di sini : http://www.my-home-job.info.
Di blog itu, Mbak Dini membahas renungannya tentang kenapa inputnya sama tetapi outputnya belum tentu sama.
Mau tidak mau jadi kepikiran juga, iya yah walaupun inputnya sama, outputnya belum tentu sama. Di bisnisku di http://www.my-home-job.info juga begitu.
Inputnya sama untuk semuanya, join sama-sama hanya bermodalkan Rp 40 ribu, support sistemnya juga sama, mentornya juga sama, tapi kenapa outputnya bisa beda yah?
Jadi teringat beberapa komentar yang sering aku dengar.
Ada yang bilang, “Saya sibuk, nggak punya waktu”.
Tapi kenapa ya bisa ada orang seperti Mbak Yuli yang karyawan kantoran tapi berhasil juga jadi Gold Director di bisnis ini? Ada juga Mbak Yenny Agustin yang sama-sama kerja kantoran tapi berhasil juga tuh jadi Senior Manager di bisnis ini. Waktu yang dimiliki oleh semuanya sama kan ya, sama-sama 24 jam? Jadi, apa benar “waktu” itu yang jadi akar masalahnya?
Ada yang bilang, “Saya sibuk, soalnya punya anak kecil, nggak ada yang bantuin di rumah”.
Tapi kenapa ya bisa ada orang seperti Mbak Nizma yang punya anak balita, bahkan salah satunya masih bayi tapi sukses juga jadi Senior Manager? Kenapa juga bisa ada orang seperti Mbak Muna yang punya 2 anak balita, ga ada yang bantuin di rumah, tapi bisa sukses jadi Senior Manager? Oya, Mbak Yuli yang Gold Director itu juga punya anak yang masih balita, dan satu lagi masih bayi loh…Jadi mikir lagi, apa benar “punya anak kecil” ini yang jadi akar masalahnya?
Hush!!! Masa anak-anak dijadikan akar masalah? Nggak boleh itu!!! Anak-anak kan anugerah kan ya? Nggak pantes rasanya kalau menuduh “anak-anak” itu sebagai akar masalah. Yang pantes itu kalau “anak-anak” dijadikan sumber motivasi buat orang tuanya untuk bisa memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Betul atau betul Bapak-bapak, Ibu-ibu?
Terus ada juga yang bilang, “Saya ga familier sama internet”.
Jadi inget sama salah seorang Directornya dBC-Network yang katanya awalnya ga familier sama internet tapi sekarang jadi jagoan gara-gara terus tanya upline-nya setiap kali menemukan step baru.
Jadi inget juga sama salah satu downlineku yang hebat. Dia sengaja datang ke tempatku, niat banget pengen diajari ngenet, terus tetep berkomunikasi sama aku ketika menemukan hal baru. Jadi mikir lagi, apa benar “ga familier sama internet” ini yang jadi akar masalahnya? Kayaknya bukan juga deh…
Ada juga yang bilang, “Saya jauh dari upline saya”.
Tapi kenapa ada Mbak Yenny Agustin dari Bali yang jadi Senior Manager padahal uplinenya ada di Manado, dan nenek upline-nya di Jakarta. Kayaknya bukan jarak juga deh yang jadi akar masalahnya.
Jadi apa donk yang jadi akar masalahnya? Kenapa dari input yang sama, outputnya belum tentu sama? Kalau pertanyaan-pertanyaan itu terus ditelusuri, saya yakin jawaban sebenarnya tersimpan di diri kita masing-masing. Kita yang tahu pasti kenapa kita tidak bergerak. Rasanya bukan masalah “kemampuan”, tapi menurutku sih lebih ke “kemauan”.
Terus nanti muncul lagi komentar, “Keadaanku kan tidak seperti mereka. Soalnya aku kan bla…bla….bla….”
Hihihihi….dibanding buang-buang energi nyari pembenaran diri tapi ga ada solusi, mendingan juga belajar yuuk sama pengalaman mereka-mereka yang sudah berhasil, siapa tahu strateginya bisa kita terapkan untuk keberhasilan kita.
Do whatever it takes when we need something!
Rasanya sih hal ini juga bisa diterapkan ya dalam kehidupan sehari-hari….
Udah dulu ah nulisnya, sukses selalu untuk kita semua!
Regards,
Tita
http://www.my-home-job.info






