CAT | Ruang Renungan
Dalam sebuah perjalanan, tanpa sengaja aku bertemu dengan serombongan anak kecil beserta ibu-ibu mereka. Rupanya anak-anak itu baru saja mengikuti lomba menggambar. Dalam diam, aku memperhatikan mereka.
Seorang anak kecil terduduk lesu. Kata ibunya, si anak itu kecewa karena tidak berhasil memenangkan lomba menggambar, bahkan juara harapan pun tidak. Ibunya bercerita lagi, katanya si anak tersebut sudah sering mengikuti berbagai lomba menggambar dan langganan juara, pialanya pun sudah banyak di rumahnya. Wajar kalau anak itu kecewa.
Batinku “baguslah anak itu sempat merasakan kekalahan”. Eits…bukan artinya aku mensyukuri kekalahan dia ya, bukan itu maksudku. Maksudku, baguslah kalau di usia sekecil itu dia sudah pernah merasakan kekalahan. Dengan kekalahannya, ia akan belajar bagaimana mengatasi sebuah kekalahan. Ia akan belajar bagaimana mengatasi perasaannya, bagaimana ia memperkuat mentalnya, bagaimana ia lebih mengasah lagi kemampuannya, hingga pada akhirnya ia mampu bangkit lagi untuk menjadi seorang pemenang yang sesungguhnya. Di sini, peran orang tua yang bijaklah yang mampu mengarahkannya ke sana.
Karena pada dasarnya kalah menang itu adalah hal yang biasa. Dua-duanya ada untuk membuat kita bertumbuh. Mampu mengatasi kekalahan dan mampu bangkit kembali adalah kekuatan yang luar biasa.
Regards,
Tita
http://www.my-home-job.info
http://planetita.com
Kelima jari terdiri dari Jempol, Telunjuk, Jari Tengah, Jari Manis, dan Kelingking.
Si Jempol berbangga hati karena meskipun dia pendek dan gemuk, dia adalah Si Ibu Jari. Apapun yang sifatnya bagus dan istimewa, dia yang bekerja. Dengan mengacungkan Jempol, orang-orang tahu bahwa sesuatu adalah istimewa. Iya kan?
Si Telunjuk berbangga hati karena dia menunjukkan kekuasaan. Bukankah orang menyuruh seseorang menggunakan telunjuknya?
Si Jari Tengah berbangga hati karena dia yang paling tinggi. Siapa yang dapat menyangkal?
Si Jari Manis berbangga hati karena dia yang paling manis. Bukankah cincin yang indah pun dilingkarkannya di jari manis?
Bagaimana dengan Si Kelingking?
Si Kelingking tidak istimewa, tidak gemuk, tidak tinggi, tidak berkuasa, tidak manis pula. Apanya yang bisa dibanggakan? Sungguhkah Si Kelingking tidak berharga?
Tapi Tuhan memang Maha Adil.
Jempol yang istimewa, Telunjuk yang berkuasa, Jari Tengah yang paling tinggi, dan Jari Manis yang manis tidak bisa bekerja sendirian. Cobalah suruh mereka menyuapkan nasi, tidak akan bisa mereka lakukan sendiri. Kerja sama dua jari juga masih sulit. Kerja sama tiga ataupun empat jari mungkin bisa tapi tidak akan maksimal. Nah, kerjasama lima jari bersama dengan kelingking, barulah sempurna. Si Kelingking yang sekilas tidak memiliki kelebihan apa-apa, tampil sebagai penyempurna.
Intinya adalah kerja sama itu indah. Jika kita mampu mengalahkan ego kita masing-masing dan mau menghargai serta bekerjasama dengan orang lain, maka hidup terasa lebih mudah dan dapat menghasilkan sesuatu yang luar biasa.
Orang yang sekilas terlihat lemah bukan berarti tidak memiliki kelebihan, bukan berarti pula harus kita sisihkan. Yang perlu dilakukan adalah meletakkannya pada tempat yang tepat sehingga semuanya menjadi indah luar biasa.
Regards,
Tita Mintarsih
http://www.my-home-job.info






